JellyPages.com

Friday, August 5, 2011

Apa Itu Filsafat Islam?

Ketika ditanya apa itu filsafat, seorang mahasiswa menjawab singkat: filsafat itu mencari kebenaran. Dengan cara berpikir dan bertanya terus-menerus.Tentang segala hal: dari persoalan gajah sampai persoalan semut, dari soal hukum dan politik hingga soal moral dan metafisika,dari soal galaksi sampai soal bakteri. Kalau begitu, berarti filsafat itu ada dimana-mana. Memang benar, filsafat ada di Barat dan di Timur. Ada filsafat Yunani, filsafat India, filsafat Cina, filsafat Kristen, dan juga filsafat Islam. Inilah makna filsafat sebagai kearifan (sophia) dan pengetahuan (sapientia) yang dicapai manusia dengan akal pikirannya.

Tiga Istilah

Dalam tradisi intelektual Islam, kita temukan tiga istilah yang umum untuk filsafat. Pertama, istilah hikmah,yang tampaknya sengaja dipakaiagar terkesan bahwa filsafat itu bukan barang asing, akan tetapi berasal dari dan bermuara pada al-Qur’an. Al-‘Amiri, misalnya, menulis bahwa hikmah berasal dari Allah, dan diantara manusia yang pertama dianugrahi hikmah oleh Allah ialah Luqman al-Hakim. Disebutnya ketujuh filsuf Yunani kuno itu sebagai ahli hikmah (al-hukama’ as-sab‘ah)–yakni Thales, Solon, Pittacus, Bias, Cleobulus, Myson dan Chilon. 

Demikian pula al-Kindi, yang menerangkan bahwa ‘falsafah’ itu artinya hubb al-hikmah (cinta pada kearifan). Sementara Ibn Sina menyatakan bahwa: hikmah adalah kesempurnaan jiwa manusia tatkala berhasil menangkap makna segala sesuatu dan mampu menyatakan kebenaran dengan pikiran dan perbuatannya sebatas kemampuannya sebagai manusia (istikmal an-nafs al-insaniyyah bi tashawwur al-umur wa t-tashdiq bi l-haqa’iq an-nazhariyyah wa l-‘amaliyyah ‘ala qadri thaqat al-insan). Siapa berhasil menggapai ‘hikmah’ sedemikian makaiatelah mendapat anugerah kebaikan berlimpah, ujar Ibn Sina. 

Sudah barang tentu tidak semua orang setuju dengan istilah ini. Imam al-Ghazali termasuk yang menentangnya. Menurut beliau, lafaz ‘hikmah’ telah dikorupsi untuk kepentingan filsuf, karena ‘hikmah’ yang dimaksud dalam kitab suci al-Qur’an itu bukan filsafat, melainkan Syari‘at Islam yang diturunkan Allah kepada para nabi dan rasul.

Yang kedua adalah istilah falsafah, yang diserap ke dalam kosakata Arab melalui terjemahan karya-karya Yunani kuno. Definisinya diberikan oleh al-Kindi: filsafat adalah ilmu yang mempelajari hakikat segala sesuatu sebatas kemampuan manusia. Filsafat teoritis mencari kebenaran, manakala filsafat praktis mengarahkan pelakunya agar ikut kebenaran. Berfilsafat itu berusaha meniru perilaku Tuhan. Filsafat merupakan usaha manusia mengenal dirinya. Demikian tulis al-Kindi.
Sekelompok  cendekiawan bernama‘Ikhwan as-Shafa’ menambahkan: ‘Filsafat itu berangkat dari rasa ingin tahu. Adapun puncaknya adalah berkata dan berbuat sesuai dengan apa yang anda tahu (al-falsafah awwaluha mahabbatul-‘ulum ... wa akhiruha al-qawl wal-‘amal  bi-ma yuwafiqul-‘ilm)’.

Ketiga, istilah ‘ulum al-awa’il yang artinya ‘ilmu-ilmu orang zaman dulu’. Yaitu ilmu-ilmu yang berasal dari peradaban kuno pra-Islam seperti India, Persia, Yunani dan Romawi. Termasuk diantaranya ilmu logika, matematika, astronomi, fisika, biologi, kedokteran, dan sebagainya.

Tiga Perspektif

Terdapat beberapa pandangan mengenai matriks filsafat Islam. Pandangan pertama dipegang oleh mayoritas orientalis. Filsafat Islam adalah kelanjutan dari filsafat Yunani kuno: ‘It is Greek philosophy in Arabic garb’, demikian kata Renan, Gutas, dan Adamson yang  lebih suka menyebutnya sebagai ‘filsafat [berbahasa] Arab’ (Arabic Philosophy). Dibalik pandangan ini terselip rasisme intelektual bahwa filsafat itu murni produk Yunani dan karenanya kaum Muslim sekadar mengambil dan memelihara untuk diwariskan kepada generasi sesudah mereka. Memang, dalam literatur sejarah filsafat dunia, peran dan kedudukan filsafat Islam seringkali dimarginalkan dan direduksi, atau bahkan diabaikan sama sekali. Mulai dari Hegel sampai Coplestone dan Russell, filsafat Islam hanya dibahas sambil lalu,sebagai “jembatan peradaban” (Kulturvermittler)dari Zaman Kegelapan ke Zaman Pencerahan. 

Pandangan kedua menganggap filsafat Islam itu reaksi terhadap doktrin-doktrin agama lain yang telah berkembang pada masa lalu. Para pemikir Muslim dituduh telah mencomot dan terpengaruh oleh tradisi Yahudi-Kristen. Pendapat ini diwakili Rahib Maimonides: “Ketahuilah olehmu bahwa semua yang dilontarkan oleh orang Islam dari golongan Mu‘tazilah maupun Asy‘ariyah mengenai masalah-masalah ini berasas pada sejumlah proposisi-proposisi yang diambil dari buku-buku orang Yunani dan Syria yang ditulis untuk menyanggah para filosof dan mematahkan argumen-argumen mereka.” 

Dua sudut pandang tersebut di atas dikritik tajam antara lain oleh Seyyed Hossein Nasr. Orientalis yang menganut perspektif Greco-Arabic biasanya mengkaji filsafat Islam sebagai barang purbakala atau artifak museum, sehingga pendekatannya melulu historis dan filologis. Di mata orientalis semisal Van den Bergh, Walzer dan Gutas, filsafat Islam itu ibarat sesosok mummi yang hidup antara abad ke-9 hingga ke-12 Masehi. Akibatnya, lanjut Nasr, para orientalis itu tidak tahu dan tak peduli akan fakta filsafat Islam sebagai kegiatan intelektual yang terus hidup dari dahulu sampai sekarang: Islamic philosophy has remained a major intellectual activity and a living intelllectual tradition within the citadel of Islam to this day, di pusat-pusat keilmuan di Dunia Islam.
  

Yang ketiga adalah perspektif revisionis yang memandang filsafat Islam itu lahir dari kegiatan intelektual selama berabad-abad semenjak kurun pertama Islam. Bukankah perbincangan tentang kemahakuasaan dan keadilan Tuhan, tentang hakikat kebebasan dan tanggung-jawab manusia merupakan cikal bakal tumbuhnya filsafat? Munculnya kelompok  Khawarij, Syi‘ah, Mu‘tazilah dan lain-lain,yang melontarkan pelbagai argumen rasional disamping merujuk kepada ayat-ayat al-Qur’an jelas sekali mendorong berkembangnya pemikiran filsafat dalam Islam. Contohnya sepucuk surat dari al-Hasan al-Basri kepada Khalifah perihal qadha dan qadar, dimana beliau menangkis argumen kaum fatalis maupun argumen rasionalis sekular. Perdebatan seru segera menyusul di abad-abad berikutnya seputar kedudukan logika, masalah atom, ruang hampa, masa, dan yang tak terhingga dalam hubungannya dengan kewujudan Tuhan serta keazalian dan keabadian alam semesta. 

Pandangan revisionis ini diwakili antara lain oleh M.M. Sharif, Oliver Leaman, dan Alparslan Açıkgenç. Filsafat Islam tidak bermula dengan al-Kindi dan berhenti dengan kematian Ibnu Rusyd. Sebagai produk dialektika unsur-unsur internal Umat Islam itu sendiri, bangunan filsafat Islam dapat ditemukan fondasinya dalam kitab suci al-Qur’an yang menduduki posisi sentral dalam kehidupan spiritual-intelektual kaum Muslim. Bagi Oliver Leaman, filsafat Islam adalah nama generik keseluruhan pemikiran yang lahir dan berkembang dalam lingkup peradaban Islam, terlepas apakah mereka yang punya andil berbangsa Arab ataupun non-Arab, Muslim ataupun non-Muslim, hidup di Timur Tengah ataupun bukan, berbahasa Arab, Parsi, Ibrani, Turki, ataupun Melayu sebagai mediumnya, sejak zaman dulu sampai sekarang ini. Leaman mencermati adanya cara pandang Islami yang membingkai itu semua (framed within the language of Islam, within the cultural context of Islamic society). Artinya, filsafat Islam itu luas dan kaya.

Corak Filsafat

Masih menurut Oliver Leaman, filsafat Islam itu sangat filosofis dalam arti logis- analitis,terus hidup dan penuh gejolak, tidak sekadar melanjutkan tradisi sebelumnya, akan tetapi juga memperlihatkan terobosan-terobosan kreatif dalam menjawab persoalan-persoalan klasik maupun modern: Much Islamic philosophy, like much philosophy of any kind, is just the accretion of new technical representaions of existing issues .... new traditions of thinking about problems and resolving difficult conceptual issues (Lihat: History of Islamic Philosophy, London: Routledge, 1996, hlm. 1-10).    

Pernyataan serupa diutarakan oleh pakar-pakar filsafat dari Mesir seperti Ibrahim Madkour, Musthafa ‘Abdur Raziq, dan Syekh ‘Abdul Halim Mahmud. Filsafat Islam itu ‘Islami’ dari empat segi: pertama, dari sisi masalah-masalah yang dibahas; kedua, dari aspek konteks sosio-kulturalnya; ketiga, dari sudut faktor-faktor pemicu serta tujuan-tujuannya; dan keempat, dari kenyataan bahwa para pelakunya hidup di bawah naungan kekuasaan Islam (Lihat: I. Madkour, al-Falsafah al-Islamiyyah: Manhaj wa tathbiquhu, hlm.19).

Memang, jika ditelusuri dan diteliti karya-karyanya, para filsuf Muslim bukan semata-mata membeo atau sekadar mereproduksi apa yang mereka pelajari dari ahli pikir Yunani kuno. Mereka tidak pasif-reseptif, tidak menerima bulat-bulat atau menelan mentah-mentah tanpa resistensi dan sikap kritis. Sebaliknya, para pemikir Muslim semisal Ibn Sina, al-Baghdadi dan ar-Razi mengupas dan mengurai, melakukan analisis dan elaborasi, menjelaskan dan menyanggah, melontarkan kritik, memodifikasi dan menyaring, mengukuhkan dan menambahkan, memperkenalkan konsep-konsep baru, atau menyuntikkan makna baru pada istilah-istilah yang sudah ada, dan menawarkan solusi-solusi baru untuk persoalan-persoalan perennial dalam filsafat.

Selain berhasil menelurkan sintesis cemerlang dan membangun sistem pemikiran tersendiri, para filsuf Muslim terutama berhasil mengakomodasi khazanah keilmuan Yunani kuno dalam kerangka pandangan hidup (Weltanschauung) Islam. Dengan kata lain, mereka berupaya mengislamkannya. Maka yang terjadi adalah islamisasi filsafat secara negatif (pengenyahan unsur-unsur kufur) dan positif (pemasukan unsur-unsur Islami).

Kontroversi Filsafat Islam 

Kendati termasuk bagian dari tradisi intelektual Islam, tidak sedikit yang antipati terhadap filsafat –bukan (i) sebagai sikap mental, proses nalar dan kearifan, melainkan filsafat (ii) sebagai ‘barang impor’ yang mengandung unsur-unsur atheisme, sekularisme, relativisme, pluralisme, dan liberalisme. Filsafat dalam pengertian kedua (ii) inilah yang ditolak oleh para ulama Muslim, yaitu filsafat yang menggiring pelakunya kepada sikap anti-Tuhan dan anti-agama, mendewakan akal, melecehkanNabi, dan sebagainya.

Di abad kelima Hijriyah, Imam al-Ghazali melepaskan pukulan keras terhadap filsafat dalam karyanya Tahafut al-Falasifah, dimana beliau menganggap kufur tiga doktrin filsafat: pertama, keyakinan filosof bahwa alam ini kekal; kedua, pernyataan mereka bahwa Tuhan tidak mengetahui perkara-perkara detil; dan ketiga, pengingkaran mereka terhadap kebangkitan jasad di hari qiyamat. Fatwa yang begitu keras melarang pengajaran filsafat juga dikeluarkan oleh Ibn as-Sholah: ‘Filsafat adalah pangkal kebodohan dan penyelewengan, kebingungan dan kesesatan. Siapa yang berfilsafat, maka butalah hatinya akan keutamaan Syari‘ah suci yang ditopang dalil-dalil dan bukti-bukti yang jelas. Siapa mempelajarinya akan bersama kehinaan, tertutup dari kebenaran, dan terpedaya oleh setan.’



Adapun filsafat dalam pengertian pertama, dengan tujuan ganda membenarkan yang benar (ihqaq al-haqq) dan membatalkan yang batil (ibthal al-bathil) secara rasional, persuasif dan elegan, maka bisa dikategorikan fardu kifayah. Seperti rasa ingin tahu Nabi Ibrahim yang mendorongnya bertanya bagaimana Allah menghidupkan orang mati. Allah balik bertanya, “Apakah engkau belum percaya?” Nabi Ibrahim menjawab, “Aku percaya, akan tetapi[akubertanya] supaya hatiku tentram (mantap).” Jadi, filsafat itu untuk mengokohkan kebenaran sekaligus menghapus keraguan. (****


Wah~~~ setelah mengekang mata dan memerah otak, akhirnya habis juga aku membaca artikel yang pendek ni dengan jayanya. Huhu, teruk na bunyinya. 

Alhamdulillah, mendapat perkongsian tentang artikel ini dari sahabat di FB. Perghhh....mula-mula aku baca boleh tahan lagi la. Boleh faham dengan sekali baca je dan mula nampak....oooo ni ke namanya falsafah yang orang dok selalu cakap2 tu. 

Hahaha, sebenarnya sebelum ni aku tak faham apekebendenyela falsafah-falsafah yang dorang cakap ni? huhu. Lepas baca artikel ni....bolehla faham jugak. hehehehe

Artikel ni makin dibaca makin susah nak difahami. Biasalah tu. Macamtula lumrah artikel2 ilmu ni. ^_^. Ditambah dengan nama2 yang pelik dan istilah2 yang tak pernah didengar dan dibaca sebelum ni memang menambahkan lagi ketidakinginan aku untuk terus membacanya. Huhuhu.

Tapi, akhirnya....habis gak baca. >_< Tahniah Hanan :-P

terima kasih buat نور عصمة اديبا kerana berkongsi artikel ini dengan saya. Semoga mendapat keberkatan dan dilimpahi rahmatNYA.

Sunday, May 15, 2011

Bon-bon ku sudah besar ^_^

my lovely cutey bon-bon
oh Bon-bon
walaupun lama menanti
kau membesar setiap hari
alangkah sakitnya hati
jika terlihat daunmu yang mati
...akan ku berusaha setiap hari
memastikan kau terus berdiri

^_^
 

Wednesday, April 27, 2011

정말 힘들어 T.T 제발 강해 져야 하난아~

Hidup kita kadang-kadang sangat gembira. Kadang-kadang sangat sedih. Kadang-kadang sangat senang lenang. Kadang-kadang perlu bersusah payah. Hidup ini seperti roda, kadang-kadang di atas, kadang-kadang di bawah.

Namun setiap yang berlaku pasti ada hikmahnya...

Entah sudah berapa lama ujian dihadapi, namun mereka tidak pernah mengeluh jauh sekali berputus asa. Berat mata memandang, berat lagi bahu yang memikulnya. Aku yang melihat sahaja pun tidak dapat menahannya apatah lagi mereka yang menghadapinya.

Ujian yang mereka hadapi bukan ujian yang kecil. Ujian yang memerlukan kesabaran yang tinggi serta penyerahan diri kepada Allah Yang Maha Besar secara keseluruhan. Ujian yang mereka hadapi memerlukan pengorbanan diri, masa, tenaga dan wang ringgit. Kesemua pengorbanan ini memerlukan keikhlasan yang tulus. Umur mereka semakin meningkat. Anak-anak semakin membesar, keperluan mereka juga semakin bertambah tidak kurang juga keinginan mereka.

Berkat kesabaran mereka serta kefahaman anak-anak yang lain akan masalah yang dihadapi, sehingga ke hari ini, ujian ini dapat ditempuhi dan masih ditempuhi pada hari ini.

Alhamdulillah....Allah sayangkan kita. Allah tahu apa yang terbaik untuk hamba-hambanya. Walaupun payah, walaupun susah, Allah ada bersama kita.

لا يكلف الله نفسا إلا وسعها

Allah tidak memberi kesusahan seseorang hamba melainkan apa yang terdaya olehnya. [Al-Baqarah: 286]


  Ya benar. Bersabarlah...kerana apa yang engkau hadapi ini merupakan perkara yang engkau mampu hadapinya. Percayalah....

أحسب الناس أن يتركوا أن يقولوا آمنا وهم لا يفتنون. ولقد فتنا الذين من قبلهم فليعلمن الله الذين صدقوا وليعلمن الكاذبين


Patutkah manusia menyangka bahawa mereka akan dibiarkan dengan hanya berkata: “Kami beriman”, sedang mereka tidak diuji (dengan sesuatu dugaan)? Dan demi sesungguhnya! Kami telah menguji orang-orang yang terdahulu sebelum mereka, maka (dengan ujian yang demikian), nyata apa yang diketahui Allah tentang orang-orang yang benar-benarnya beriman, dan nyata pula apa yang diketahui-Nya akan orang-orang yang berdusta. [al-Ankabut: 2-3]


Tabahlah....ujian yang datang itu untuk membuktikan keimananmu. Maka tetaplah pada jalan yang Allah redhai agar kau mendapat ganjaran daripadaNya.


إن عظم الجزاء مع عظم البلاء ، وإن الله تعالى إذا أحب قوما ابتلاهم ، فمن رضي فله الرضا ، ومن سخط فله السخط

Sesungguhnya besarnya ganjaran itu dinilai pada besarnya bala’ yang menimpa. Dan sesungguhnya Allah itu apabila mencintai sesuatu kaum, maka akan mereka itu diberi dugaan. Oleh sebab itu barangsiapa yang redha – dengan ujian yang menimpa, dia akan memperoleh keredhaan Allah dan barangsiapa yang tidak maka padanya kemurkaan Allah. [Riwayat al-Tirmidzi, al-Albani menyatakannya sebagai hasan dalam Sahih dan Dha’if Sunan al-Tirmidzi.]


Percayalah....ujian yang ddatang ini tanda Allah cintakan kita....

أم حسبتم أن تدخلوا الجنة ولما يأتكم مثل الذين خلوا من قبلكم مستهم البأساء والضراء وزلزلوا حتى يقول الرسول والذين آمنوا معه متى نصر الله ألا إن نصر الله قريب

Adakah patut kamu menyangka bahawa kamu akan masuk syurga, padahal belum sampai kepada kamu (ujian dan cubaan) seperti yang telah berlaku kepada orang-orang yang terdahulu sebelum kamu? mereka telah ditimpa kepapaan (kemusnahan harta benda) dan serangan penyakit, serta digoncangkan (dengan ancaman bahaya musuh), sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman yang ada bersamanya: “Bilakah (datangnya) pertolongan Allah?” Ketahuilah sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat (asalkan kamu bersabar dan berpegang teguh kepada agama Allah). [Al-Baqarah: 214]


Allahuakbar. Melihat mereka begitu kuat menghadapi ujianMU YA ALLAH, ku sangka aku juga kuat untuk menghadapinya. Tetapi tenyata aku ini sangat lemah. Akhirnya hanya mampu menangis bersendirian. Ya Allah, tabahkan hati mereka yang menghadapi ujianMu ini dan kurniakanlah mereka kesabaran yang tinggi. Sesungguhnya Engkau Tuhan yang Maha Berkuasa. Amin.... 


اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عنّا. اللهم إنّا نسألك العفو والعافية.  اللهم أنت السلام ومنك السلام وإليك يعود السلام، فحيّنا ربنا بالسلام، وادخلنا جنّة دار السلام، تباركت ربنا وتعاليت يا ذا الجلال والإكرام

Wednesday, November 24, 2010

Seoul endures life under the gun

By Andrew Salmon, for CNN
November 24, 2010 6:04 a.m. EST
A South Korean couple watch a public television screen broadcasting a report on North Korea's firing over the South Korean border island of Yeonpyeong at a bus terminal in Seoul on November 23
A South Korean couple watch a public television screen broadcasting a report on North Korea's firing over the South Korean border island of Yeonpyeong at a bus terminal in Seoul on November 23
STORY HIGHLIGHTS
  • Although no strangers to North Korean hostility, Seoul residents see this attack as different
  • The sight of columns of smoke rising from an artillery strike sent a frisson of real fear
  • It was the first such attack since the Korean War ended at midnight July 27, 1953
  • Seoul itself lies in range of massed, long-range North Korean artillery
Seoul, South Korea (CNN) -- On the surface, Seoul, the capital of economic powerhouse South Korea, is one of the most impressive cities in East Asia: Sprawling and prosperous, hi-tech and self confident.
But eight times a year, the traffic comes to a halt and crowds disappear from the streets as an eerie wail resounds across the city: The sound is a siren, and this is the minbangui, or civil defense exercise, designed to drill the population against a possible strike.

Seoul is a metropolis that lives in the gun sights of North Korea, one of the most dangerous states on the planet and just 40 miles (64 kilometers) north of downtown, yet Seoul residents have learned to live with the threat.

In recent years, North Korean provocations -- nuclear tests, missile firings, naval clashes -- have been more a subject for conversation in barbeque restaurants and late night pubs than lifestyle changers. Financial markets are barely moved by the latest threats; nobody is digging bunkers among their backyard kimchi pots. A blasé attitude has infiltrated the public consciousness after six decades of living with the North.
On Tuesday that attitude was rudely shaken after North Korean shells slammed into the South Korean island of Yeonpyong in the Yellow Sea.

The sight of columns of smoke rising from an artillery strike sent a frisson of real fear through this city of 12 million. It was the first such attack since the Korean War ended at midnight, July 27, 1953, and Seoul itself lies in range of massed, long-range North Korean artillery dug into the Demilitarized Zone.

Streets were jammed with traffic, as the news broke and people headed home to join families. Companies sent emails urging staff to remain calm. A European diplomatic dinner was half empty, as invited government officials on stage two alert -- one being the lowest level, four being war footing -- were obliged to remain at their stations.

"When I got home, the family discussed what we would do if war breaks out," said Kim Joon-hee, a Seoul-based accountant and mother of two. "This was especially shocking as it came after the Cheonan incident."

In March, the Cheonan, a South Korea warship, was sunk in the Yellow Sea with the loss of 46 lives, indicating a dangerous new level of aggression by North Korea. The isolated state is currently in the midst of a leadership succession process. In the words of North Korean expert Dr Andrei Lankov, incoming leader Kim Jong Un has to prove to his generals that, "...he is not a spoiled brat who spent his childhood eating Swiss pastries, but a tough leader -- a warlord in the making."

That was certainly the impression Seoul residents got on Tuesday.
"I had never seen South Korean buildings burning like that -- this was Iraq on Yeonpyong," said Sue Kim, a reporter at a leading daily. "It was kind of incredible, but then my reaction was this has been going on for half a century. I had forgotten that we live in a country at war."

The Korean War, which ended with a truce rather than a peace treaty, is a distant memory for most Seoulites: few know the details of the savage street combat that racked their city, or the fact that the capital changed hands four times. The only remaining signs of combat are the bullet and shrapnel damage in the masonry of ancient palaces, for most of the city has been built and rebuilt.

It is easy for the younger generation to overlook these scars, and the prominent U.S. military garrison -- headquarters of the 27,500 U.S. troops still stationed here as insurance against another invasion -- at Yongsan in the very heart of Seoul, is now an established part of the cityscape.

And whether the Cheonan and Yeonpyongdo incidents will permanently change attitudes is uncertain.
"Normally when the North Koreans misbehave, people don't care, but yesterday, people got nervous," said Robert Koehler, a 13-year expatriate and author of a Seoul guidebook. "People tend to get very angry, but then they settle down -- it is easy to get jaded."

But with the memories of one of the century's most devastating wars seared into their memories, the old generation cannot forget.

"For me this is nothing new," said Kim Song-hwan, a retired artist who lived through -- and painted -- the North Korean occupation of Seoul in 1950. "But it is kind of problematic that young people today are unconcerned about the danger of war."

The 20th century Korean War lasted three years and killed -- estimates vary -- between two and four million. A 21st century Korean War is likely to be shorter but, with Pyongyang possessing nuclear weapons, even deadlier.

And while Seoul in 1950 was a city that few people in the wider world had heard of, modern Seoul has tremendous international relevance as the capital of the world's 13th largest economy. Were it to come under artillery or nuclear attack, the tsunami that would sweep through global financial markets could be devastating.

Koreas on 'brink of war' because of Seoul, Pyongyang says

(CNN) -- North Korea on Wednesday blamed South Korea for driving them "to the brink of war," a day after the North shelled a South Korean island and killed four people.
South Korea provoked the shelling of Yeonpyeong Island by holding a military drill off their shared coast in the Yellow Sea, North Korea said.

Pyongyang made the accusation through its state media, referring to a military drill that Seoul holds every year.
"The puppet group dared make an uproar over 'a provocation' from someone and cry out for 'punishment' like a thief crying 'Stop the thief!'" the North's KCNA news agency said.

"The Lee Myung-bak group's treacherous and anti-reunification acts are intolerable as it vitiated the atmosphere for improving the inter-Korean relations overnight and drove the situation to the brink of war, challenging the desire of all the Koreans," KCNA said.

 
The Koreas clash
 
Attack on island in the Yellow Sea
 
 
Koreas urged to stand down
 
 
China concerned over shelling incident
 
The administration of South Korean President Lee Myung-bak said it was consulting the United States and other allies Wednesday, following the North's shelling.

"We have come to the judgment that what happened on Yeonpyeong Island was a definite military provocation against the Republic of Korea," the Lee administration said.

"The fact that they have indiscriminately fired upon a defenseless civilian zone was a brutally inhumane action, an illegal and intentional action against the U.N. constitution and the armistice between the North and South Korea."

The South said it was on high alert, but was calmly considering its actions.
"We have ordered to bring calm to the lives of people. For the deceased marines, we will give them honorable treatment and the funeral functions will be held on the coming Saturday," the Lee administration said.

"The close cooperation between the U.S. and South Korea will be maintained and there will be special measures for the damage done to the village."

Seoul on Wednesday announced 1 billion won ($875,583) in emergency money to repair damage wrought by Tuesday's shelling, which killed two South Korean marines and two civilians. The attack also injured 15 South Korean soldiers and three civilians, South Korea said.

The two civilians' bodies were found Wednesday on the coast of Yeonpyeong Island, South Korean coast guard said.

 
Gallery: North Korean attack
 
 
Map: N. Korea shells S. Korean island
The bodies of two men in their 60s were not recognized by residents of the sparsely populated island, leading officials to believe that they were construction workers from off the island, said Song Young-gil, mayor of Incheon.

Hundreds of South Koreans continued to evacuate from the island on Wednesday. Some residents said they were too afraid to ever return. They described being terrified as North Korean shells landed in and around their homes Tuesday.

On Wednesday, South Korea's Yonhap news agency reported that five buildings were directly hit and 22 were damaged during the attack. Photos provided by South Korean coast guard on Wednesday showed demolished and damaged homes.

The Yellow Sea is a longstanding flash point between the two Koreas. In March, 46 South Korean sailors died there when their warship was torpedoed. Seoul says Pyongyang sank the Cheonan, which the North has denied.

The United States said Wednesday that it would hold military drills with South Korea in the Yellow Sea starting on Sunday.

"This exercise is defensive in nature. While planned well before yesterday's unprovoked artillery attack, it demonstrates the strength of the ROK-U.S. alliance and our commitment to regional stability through deterrence," U.S. Forces Korea said.

"The USS George Washington carrier strike group will join Republic of Korea naval forces in the waters west of the Korean peninsula from Nov. 28 to Dec. 1 to conduct the next exercise in the series announced at the 2+2 meetings in July."

The United States has about 28,500 troops deployed in South Korea. A U.S. defense official said more than 50 U.S. Navy vessels are in the area, including a carrier strike group led by the USS George Washington.
The North Korean shelling has put the entire region on edge.

On Wednesday, Japanese Prime Minister Naoto Kan said, "North Korea's artillery attack on South Korea was an attack on an area where ordinary citizens live. This is an unforgivable act of barbarism. We have been strongly condemning North Korea for this action and will continue to do so."

"This attack created extreme anxiety not only in South Korea, but also in the East Asia region, including Japan. We must tackle this issue with close coordination with South Korea, as well as the United States. At the same time, we urge China, which holds a strong influence over North Korea, to make an effort to suppress such action by North Korea."

China, which is North Korea's key ally, has responded obliquely to Tuesday's shelling.
"We have taken note of relevant reports and express our concern. Relevant facts need to be verified and we hope both parties make more contributions to the stability of the peninsula," Chinese foreign ministry spokesman Hong Lei said.

Beijing sustains North Korea with food, arms and fuel. International sanctions over the North's nuclear program have isolated the country. Its people have gone hungry as Pyongyang has poured money into its military and nuclear programs.